28 Des 2010

Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian di Jepang

Seorang Penyuluh Pertanian pembaca Tabloid Sinar Tani melalui Rubrik “SMS
Cangkul”, mengusulkan perlunya Balai Penyuluhan Pertanian dilengkapi perangkat
Teknologi Informasi sehingga mampu mengakses ke Internet.
Menurutnya hal ini akan memudahakannya memperoleh informasi berupa inovasi
teknologi dan kelembagan yang dibutuhkannya dalam mengupayakan kesejahteraan
masyarakat tani yang menjadi tugas pokok, fungsinya serta tanggung jawabnya.
Artikel ini adalah sumbangan pemikiran berkaitan usulan tersebut.
Teknologi Informasi Penyuluhan di Jepang
Penyuluhan Petanian di Jepang (meliputi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan)
berawal pada tahun 1948 dengan tujuan utama mengembangkan difusi inovasi
teknologi yang diperoleh dari Lembaga Penelitian Pertanian untuk diteruskan kepada
para petani agar mengadopsi dan mengadaptasikannya pada kondisi usahatani yang
nyata pada wilayah-wilayah pengembangan pertanina. Tujuan penyuluhan terfokus
pada penerapan inovasi teknologi guna meningkatkan ketersediaan pangan dalam
jangka panjang ke depan menyusul kekalahan negaranya dalam Perang Dunia ke-2.
Kini kegiatan penyuluhan lebih diperluas, mencakup subsektor pendukungnya berupa
teknologi maju, pengelolaan kesuburan tanah, pemenuhan kebutuhan finansial
usahatani dan lainnya.
Berkaitan dengan keterbatasan personalia Penyuluh Pertanian dan keterbatasan
finansial pemerintah pusat dan wilayah (perfecture), maka kini di Jepang formulasi
penyebaran informasi sebagai promosi, mengawali kegiatan penyuluhan dan
komunikasi inovasi teknologi, bertumpu pada penggunaan komputer dan teknologi
informasi yang lebih efektif dan efisien. Materi informasinya bukan hanya inovasi
teknologi, tetapi juga inovasi kelembagaan, metode penyelenggaraan peenyuluhan,
serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya. Pemeran utama dalam hal ini justru
bukan semata dari kelembagaan Pemerintah Jepang, melainkan juga dari Organisasi
Non Pemerintah yaitu Asosiasi Pembangunan dan Penyuluhan Pertaninan Jepang
(Japan Agricultural Development and Extension Assosiation). Assosisasi ini telah
membangun suatu sistem pertukaran informasi diantara para Pemandu Penyuluhan
Pertanian pada setiap wilayah pengembangan, dengan materi kumpulan kasus-kasus
Penyuluhan Pertanian yang berbasis pada Programa Penyuluhan, informasi tentang
Metode Penyuluhan, informasi teknis komoditas yang dikembangkan para petani, dan
informasi tentang temuan inovasi teknologi oleh Lembaga Penelitian Pertanian.
Dengan perangkat teknologi informasi, para Pemandu Penyuluhan petanian dapat
dengan cepat mempertukarkan informasi spesfik lokasi ke wilayah pengembangan
lainnya. Perangkat yang digunakan berkembang seiring waktu. Jika pada tahun 1975
sebagai, awal penerapannya menggunakan “Surat Berantai” (Snail Letter), maka pada
tahun 1985 beralih dengan menggalakkan penggunaan faximili, dan pada tahun 1990
diramaikan dengan penggunaan jaringan komunikasi personal yang diberi nama :
Nilai Tambah Jaringan Kerja Penyuluhan (Fukyu/Extemion Value Added). Jaringan
komunikasi yang paling populer diterapkan pada tahun 2000 sampai saat ini, sistem
diberi nama Jaringan Kerja Informasi Penyuluhan (Extension Information Network)
atau isingkat El-Net, dipadukan dengan internet, home page, dan dioperasikan oleh
Pusat Teknologi Informasi Jepang.
Dipihak lain pemerintah berperan menggerakkan Penyuluhan Pertanian untuk
masyarakat tani dan publik lainnya dengan pelayanan gratis karena biaya yang
diperlukan sudah termasuk pembiayaan pemerintah. Dengan sistem penyuluhan
demikian itu, lembaga Kerjasama Pelayanan Penyuluhan (Cooperative Extension
Services) menyelenggarakan penyuluhan dengan dukungan fiansial pemerintah pusat
dan wilayah (perfecture). Di Jepang pada tahun 2005 yang lalu terdapat sekitar 9.000
Penyuluh Pertanian yang bekerja pada 450 Pusat Penyuluhan Pertanian, tersebar pada
wilayah pemerintahan (Perfecture) dan bersinergi dengan Lembaga penelitian
Pertanian wilayah setempat.
Karakteristik pemanfaatan Teknologi Informasi di Jepang, didominasi oleh Lembaga
Jaringan Kerja Informasi Pertanian yang bernaung di bawahy Assosiasi Pembangunan
dan Penyuluhan Pertanian Jepang, menempatkan Pemandu Penyuluhan Wilayah
sebagai sasarannya. Jaringannya bersifatnya tertutup, ruang lingkup seluruh Jepang,
dan melibatkan banyak pihak, yakni (i) Departemen Pertanian, Perikanan dan
Kehutanan, (ii) Pemerintah Wilayah (Perfecture), (iii) Pusat-pusat Penyuluhan, (iv)
Lembaga Penelitian Pertanian Nasional, dan (v) Perusahaan publik.
Selain lembaga tersebut diatas, dijumpai pula Jaringan Kerja Lokal yangbbersifat
tertutup, dioperasikan oleh pemerintah wilayah dan Pusat Penyuluhan Petanian
dengan sasaran utama para petani , melibatkan lembaga pemerintahan wilayah, pusatpusat
penyuluhan, lembaga penelitian pertanian wilaya, dan koperasi pertanian serta
petani, dengan ruang lingkupnya wilayah. Adapun Home page, jaringan teknologi
informasi yang bersifat umum, terbuka dan dapat diakses semua pihak, termasuk
petani dan konsumen pertanian, melengkapi jaringan teknologi informasi lainnya.
Bagaimana dengan Penyuluhan di Indonesia?
Penyuluhan Pertanian di Era Kemerdekaan Indonesia saat ini terpaut 20 tahun ke
belakang dari segi waktu dengan Penyuluhan Pertanian di Jepang, namun dengan
kondisi yang berbeda yakni Jepang baru saja kalah perang versus Indonesia yang baru
merdeka. Penyuluhan muylai diintensifkan sejak awal tahun 1970-an, dengan
pendekatan terpadu penyediaan sarana pendukung, pengiolahan dan pemasaran hasil,
serta dukungan finansial di satu sisi, dan menarik dukungan struktur pedesaan
progresif di sisi lainnya. Pandekatan ini lazim disebut dengan Bimbingan Massal
(Bimas) yang disempurnakan dengan Wilayah Unit Desa (Wilud), mengacu kepada
Grand Teori A. T. Mosher tentang Pembangunan Pertanian.
Perangkat kelembagaanya kemudian lebih disempurnakan dengan lahirnya dan
berperannya organisasi dan kelembagaan Balai Penyuluhan Pertanian pada tahun1977
(efektif tahun 1978) yang berbasisi secara lokal/kecamatan pada setiap
Kabupaten/Kota, dan Balai Informasi Pertanian (BIP) yang keberadaannya melayani
informasi inovasi teknologi pertanian pada wilayah propinsi. BPP sebagai home basenya
Penyuluh Pertanian, sebagai konsumen informasi, dan BIP sebagai produsen dan
pelayan informasi. Peran optimal Penyuluhan Petanian dan perangkat pendukungnya
diyakini banyak pakar pertanian telah menyumbang 60% pencapaian swasembada
beras kita pad tahun 1984 yang lalu.
Kini di Era Komunikasi Global dimana perangkat Teknologi Informasi berupa
internet yang semarak dengan penyelenggara komersial berupa Warung Internet
(Warnet), bukan lagi barang asing. Terlebih lagi, perangkat Teknologi Informasi pada
tingkat Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai-
Balai Penelitian dan Pengembangan Komoditas Pertanian sebagai penghasil inovasi
teknologi pertanian, juga telah memadai. Di tingkat wilayah saat ini terdapat 30 Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), perangkat organisasi Badan Litabang
Pertanian yang mengakuisisi peran Balai Informasi Pertanian tempo dulu, berperan
sebagai penghasil Teknologi Tepat Guna Spesifik Lokasi, sekaligus memberikan
contoh diseminasinya, kini juga dilengkapi dengan perangkat Teknologi Informasi.
Dengan demikian, perangkat pemerintah pusat dan sumber-sumber inovasi teknlogi,
termasuk perangkatnya di wilayah pengembangan pertanian nampaknya siap berperan
tanpa hambatan (contoh terbaru lahirnya Website Prima Tani).
Karena itu, saatnya perhatian dan upaya penyediaan perangkat Teknologi Informasi
diarahkan kepada pengguna inovasi teknologi secara lokal kabupaten dan Balai
Penyuluhan Pertanian (BPP), yang bersentuhan langsung dengan berjuta petani yang
haus akan inovasi teknologi dan rekayasa kelembagaan pedesaan progresif,
melengkapi sistem, media dan metode penyuluhan konvensional kita saat ini yang
sedang bergelut dengan peningkatan kinerjanya. Informasi dan Penyuluhan Pertanian
pada rubrik “SMS Cangkul” di media kita ini, mungkin ada benarnya.
Kamaruddin AS dan Mansur Azis
http://tentangku.blogsome.com/2007/12/18/sistem-informasi-penyuluhan-pertanian-di-jepang/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar